45 Perawat Indonesia siap disebar diseluruh Panti Jompo Jepang
January 30, 2009 at 8:26 pm 1 comment
YOKOHAMA, SELASA — Suasana haru meliputi aula Yokohama Kenshu Center, Selasa malam, ketika lagu “Kokoro No Tomo” dan “Kemesraan” menjadi lagu perpisahan para caregivers (perawat untuk lanjut usia) asal Indonesia dengan lembaga yang selama ini membimbing mereka karena esoknya sudah harus bekerja di berbagai panti jompo yang tersebar di seantero Jepang.
Pada awalnya ke-45 caregivers Indonesia itu membawakan lagu-lagu riang dan bernyanyi dengan suara yang bersemangat karena baru saja memperoleh sertifikat kelulusan bahasa Jepang. Namun, ketika membawakan lagu “Kokoro No Tomo” yang bernuansa sedih, beberapa caregivers tanpa tersadar mulai menitikkan mata. Begitu juga dengan sejumlah pembimbing Jepang.
Suasana haru pun langsung memenuhi ruangan, ketika para caregivers dan para pembimbiangnya berdiri bergandengan tangan untuk menyanyikan lagu “Kemesraan”. Isak tangis pun langsung terdengar. Sementara para tamu lainnya yang berada tidak jauh dari mereka berdiri terdiam ikut menahan haru mendengarkan lagu yang berbicara soal kedekatan perasaan itu.
Momen kesedihan itu langsung saja menjadi santapan bagi puluhan jurnalis dan wartawan foto Jepang yang meliput acara pemberian sertifikat kelulusan tersebut. Kilatan cahaya lampu flash dari kamera segera saja menerpa wajah-wajah sedih tersebut.
Seusai lagu “Kemesraan”, peluk dan tangis di antara caregivers dan pembimbing mereka pun menjadi salam perpisahan. Suasana itu membuat Presiden AOTS Kazuo Kaneko juga tidak tahan hingga harus keluar ruangan. “Suasananya mengharukan sekali. Selamat malam,” kata Kaneko terburu-buru di pintu keluar.
The Association for Overseas Technical Scholarship (AOTS) merupakan lembaga pelatihan yang ditunjuk Pemerintah Jepang untuk memberikan pelatihan bahasa dan budaya Jepang kepada para perawat dan caregivers Indonesia selama enam bulan. Seteah itu mereka diharuskan mengkuti ujian bahasa Jepang untuk bisa bekerja di Jepang dengan masa waktu tiga tahun.
Sebelumnya, Kazuo Kaneko dalam sambutannya memuji perawat dan caregivers Indonesia atas semangatnya yang mampu menyelesaikan pelatihan bahasa, bahkan lulus hingga memperoleh sertifikat.
Kaneko menjelaskan, para perawat dan caregivers Indonesia berlaku sopan, periang, dan yang paling membuat para instruktur kagum adalah semangatnya untuk menyelesaikan program pelatihan yang berjalan selama enam bulan penuh.
“Semoga sukses, dan selamat jalan,” kata Kaneko mengakhiri sambutannya. Sementara itu, Dubes RI untuk Jepang Jusuf Anwar menyatakan juga kekagumannya karena para caregivers mampu menunjukkan bukti akan tenaga profesional Indonesia. Keberhasilan memperoleh sertifikat juga merupakan modal yang kuat untuk menjalankan tugas-tugas selama di Jepang,” kata Dubes.
“Senang mendengar semangat anda, semangat untuk bekerja keras, karena demikianlah Jepang. Dengan keberhasilan ini saya yakin anda-anda semua akan dapat diterima dengan cepat,” kata mantan menteri keuangan itu. Dubes juga mengingatkan bahwa para perawat Indonesia dan caregivers adalah tenaga kerja terdidik yang memiliki skill sehingga perlu membuktikannya kepada publik Jepang akan kemampuan tenaga kerja Indonesia.
“Anda juga merupakan duta-duta bangsa yang bisa mengangkat citra Indonesia di luar negeri. Sekali lagi selamat berjuang. Gambate Kudasai!?” seru dubes memberi semangat yang langsung disambut tepuk tangan para caregivers.
Menurut salah seorang caregivers, Ariyani Setyaningsih, dia dan teman-temannya memang berusaha keras untuk bisa lulus karena sertifikat ini bukan sekadar bukti untuk diterima di Jepang, tetapi juga bagi bagi kemampuan caregivers Indonesia sendiri.
“Ini seperti menjadi kekuatan bagi kami. Apalagi kami juga tdak ingin mengecewakan pembimbing kami yang sudah mengajari dengan sangat baik,” kata perawat asal Jakarta itu.
Ariyani bersama teman-temannya akan ditempatkan di 21 panti jompo yangg tersebar di 13 provinsi di seantero Jepang. Ariyani sendiri akan ditempatkan di Panti Jompo Hanashi di Osaka.
“Senang sekaligus campur sedih. Kami memang lulus, tetapi ini baru satu tahap dari ujian lainnya yang harus kami lewati, yaitu bisa atau tidaknya diterima masyarakat Jepang,” kata Dianti Simanjuntak yang akan ditempatkan di Nagoya.
Perawat dan caregivers Indonesia tiba di Jepang awal Agustus 2008, dan merupakan gelombang pertama dari 1.000 perawat yang akan bekerja di Jepang sesuai skema perjanjian kerja sama strategis Economic Partnership Agreement (EPA ) antara Indonesia dan Jepang.
Kedatangan perawat dan caregivers Indonesia pada awal Agusus 2008 disambut keraguan oleh masyarakat Jepang, yang meragukan kemampuan mereka untuk bisa berbahasa Jepang yang dikenal sulit.
ABD, Sumber : Kompas.com
Entry filed under: Uncategorized. Tags: .
1. Septi rahayu | March 5, 2009 at 8:03 pm
Banzai….tuk tman2 yg di jpang.smg sukses sll.khususx tuk tman2 dr binawan dan lebih khususx tuk Arief Kurniawan ‘Bro’,smua tman2mu dr prog B06ev mrs bangga.sukses sll bro.harumkan nama bangsa dan angkatlah citra perawat indonesia.krn saat ini Indonesia tngah menantikn hadirmu dan mrindukan karyamu.