Materi
BASIC LIFE SUPPORT (BLS)
By. Abu Deriel
Basic life support / bantuan hidup dasar (BHD) adalah suatu pertolongan pertama yg hrs segera dilakukan agar tidak terjadi kerusakan organ vital yang membuat pasien tidak dapt tertolong.CPR/RJP adalah metode yang dilakukan untuk menyelamatkan pasien yang mengalami henti jantung dan henti nafas untuk mencegah terjadinya kematian organ vital dg cara melakukan nafas buatan dan pijatan jantung luar.
Kemampuan BLS ini harus dimiliki oleh orang awam sekalipun karena kasus-kasus yang membutuhkan, BLS dapat terjadi dimanapun dan kapanpun. Sedangkan mater ini menjadi sesuatu yang wajib dipelajari bagi tenaga kesehatan, polisi, pemadam kebakaran, dan penjaga pantai.
Pola pikir dan pendekatan dalam menghadapi kasus (situasi gawat darurat) adalah berdasarkan suatu urutan yaitu DR ABC (Denger,Respons,Airway and c-spine control,Breathing,Circulation and bleeding control). DR ABC inilah yang akan terus menjadi perhatian dan harus selalu ada dalam kepala kita pada saat melihat, menilai dan sebelum melakukan tindakan apapun pada seorang pasien. DR ABC ini dibuat berdasarkan kondisi kegawatan dan paling potensial dalam menimbulkan kematian pada pasien.
DR ABC
D (Danger).Ketika seorang pasien hadir didepan mata dan berdarah disana-sini, tampak tulang menonjol kemudian pasien berteriak kacau, apa yang harus anda lakukan? yang harus dilakukan adalah ambil sarung tangan (gloves/hanscoen) karena anda tetap harus menjaga diri anda dari cairan tubuh pasien yang akan menularkan penyakit-penyakit, seperti HIV, Hepatitis, dll. Kemudian pastikan lingkungan disekitar anda aman. Aman dari api pada kasus kebakaran, aman terhadap lalu lintas kendaraan pada kasus RTA (Road Traffic Accident),dll.
R (Respon). Setelah memakai sarung tangan segera lakukan tindakan untuk menilai respon pasien, goyangkan pasien tersebut dengan memberikan pertanyaan (misalnya “siapa nama bpak”?). Bila pasien mampu menjawab dengan baikmaka dapat diambil kesimpulan bahwa pasien tersebut dalam keadaan sadar dan jalan nafas tidak terganggu, tetapi jika pasien tidak menjawab sama sekali segera rangsang dengn memberikan tepukan yg lebih keras,jika masih tetap tidak menjawab segera pilin atau cubit pasien, bila mengeluh sakit maka kita dapat menyimpulkan bahwa pasien mengalami gangguan kesadaran yang dapat disebabkan oleh apapun, dan jalan nafasnya aman.
A (Airway/Jalan nafas).Pada suatu saat pasien kita temukan dg suara nafas yang ramai, pd kondisi ini berarti ada suara naas tambahan yang disebabkan oleh sumbatan parsial jalan nafas, sedangkan pada sumbatan terjadi secara total maka suara nafas tidak akan terdengar lagi.
Untuk menilai adanya gangguan jalan nafas (airway) maka kita gunakan metode “look,listen and feel”.Contoh ukuran penilaian:
Look : kita dapat melihat adanya pergerakan jalan nafas. Listen: kita mendengar adanya suara nafas tambahan yang mempunyai berbagai macam jenis, paling sering adalah snoring (ngorok) yg disebabkan oleh obstruksi mekanis seperti lidah yg jatuh ke hipfaring, gargling (suara kumur) yg disebabkan oleh cairan seperti darah atau sekret yg berlebihan, dan crowing (suara melengking saat inhalasi) karena adanya spasme laring. Feel : maka kita tida akan merasakan adanya hembusan angin.
Bila salah satu dari hal tersebut kita temukan maka segeralah lakukan pembebasan jalan nafas. Pertama bersihkan mulut dengan tangan kita (finger swab), lalu lakukan triple airway manuver (ekstensi leher,head tilt dan chin lift). berhati-hati pada pasien multiple trauma, jangan lakukan ekstensi leher tapi segera pasang collar neck.
Pada saat pasien tersedak akan terlihat gejala khas sumbatan jalan nafas baik total maupun parsial. Pada kasus ini, kit dapat melakukan Heimlich manuvre atau back blows. Heimlich manuvre adalah hentakan pada daerah epigastrim pasien dg prinsip seperti botol yg tertutup dan dapat dikerjakan pada saat pasien terlentang atau pada saat posisi pasien masih tegak. Hati-hati penggunaan tehnik ini pada wanita hamil dan balita, sedangkan back blows adalah pukulan atau tepukan pada punggung pasien, 2-3 kali yang dapat dikerjakan pada siapapun.
Bila dengan cara-cara ini pasien belum dapat bernafas maka lakukan pemasangan oropharingeal tube, sedangkan bila gangguan disebabkan oleh cairan dapat dilakukan suction (sedot). Berhati-hati pemasangan oropharingeal tube pada anak-anak. Bila belum dapat tertangani maka pikirkan kemungkinan pemasangan airway definitif seperti cricotiroidectomy needle atau surgery dan pemasangan tube orotrakeal atau nasotrakeal.
B (Breathing/Nafas). Breathing atau ventilasi adalah suatu proses pengambilan oksigen dari udara bebas dan pengeluaran karbon dioksida ke udara bebas. Maka untuk menilai gangguan pada breathing segera lihat ada tidaknya pergerakan nafas (tidak adanya suara naafas dan tidak dirasakannya hembusan udara yang keluar dari mulut pasien). Bila hal ini terjadi maka segera curigai adanya henti nafas, dan lakukan breathing support dengan hembusan efektif sebanyak 2 kali. Bila suara nafas suadh ada walaupun lemah, segera posisikan pasien dalam recovery position. Bila belum ada perubahan setelah dua kali breathing support, segera lakukan pemeriksaan terhadap sirkulasi sambil terus dilakukan pernafasan buatan (artificial ventilation). Beberapa tehnik breathing support yaitu :
1. Mouth to mouth breathing
2. Mouth to nose breathing
3. Mouth to stoma brteathing
4. Mouth to mask breathing
Bila anda berada di instasi gawt darurat maka anda dapat melakukan bantuan pernafasan dengan menggunakan ambu bag yg telah disambung dengan oksigen.
C (Circulation and bleeding control). Setelah problem A dan B dapat ditangani segera pindah ke C dan raba nadi carotis, adakah pulse? berapa frekwensinya?bagaimana pengisiannya apakah lemah atau cepayt?
Bila tidak ditemukan adanya denyut, curiga adanya henti jantung. Bila ditemukan adanya nadi walaupun lemah dan cepat segera berpikir adanya suatu problem sirkulasi, segera lakukan pengkajian lebih lanjut dengan menilai akral (hangat atau dingin),warna kulit (merah atau pucat),dan pengisian kapiler pasien (nilai normal RCT/Refill Capillary Test kurang dari 2 detik). Bersamaan dengan pemeriksaan ini segera lakukan pertolongan seperti pemasangan infus (IV line), abocath kaliber besar dengan transfusi/blood set, dua jalur, cairan RL, hangat dan jangan lupa lakukan pengambilan contoh darah untuk crossmatch, apabila terjadi shock maka cairan intrvena harus diguyur pemberiannya. Bila curiga adanya henti jantung maka segera lakukan kompresi jantung luar.
Sumber : Buku Panduan Diklat Kegawatdaruratan Dasar untuk Perawat Edisi II. MER-C Training Center.Jakarta.2007